Aku pada Tulisan

Sungguhnya aku jatuh cinta pada tulisan. Tapi seperti pecinta yang kadang melupakan kekasihnya, begitu pula aku dengannya. Saat gairah menggelora, aku akan merengkuhnya segenap jiwa. Tapi ketika sudah habis tak ada rasa, denga cepat aku menafikannya. Meski sebenarnya jauh di dalam aku tak pernah membuangnya. Masih menyimpannya dalam peti kemas, yang sewaktu-waktu bisa dibuka di kala rindu mendera.

Sungguh aku jatuh cinta pada tulisan. Takjub pada kekuatan persuasinya. Takjub pada ketajaman kalimat dan kata-kata yang mampu dirangkainya. Coba saja baca dan cermati. Kadang dia menderu marah, kadang gelisah, sedih melemah tapi juga acap penuh gairah.

Sungguh aku jatuh cinta pada tulisan. Dulu (bahkan sampai sekarang) aku bercita-cita untuk menjadi seorang penulis. Herannya bukan wartawan, sebuah pekerjaan yang dilingkupi dunia tulis menulis. Aku bukan orang dinamis yang tahan mengejar-ngejar berita tentang apapun. Aku cenderung bertipe pengamat, pemikir, pengkhayal dan senang jika akhirnya bisa membaginya dalam sebuah tulisan. Mungkin dawali dengan menjadi penulis blog yang aktif, berlanjut menjadi seorang cerpenis atau novelis produktif. Siapa tahu.

Sebenarnya bukan pada daya tarik materi atau popularitas jika aku tertarik pada tulisan. Meski tidak dipungkiri dunia tulisan kadang menjanjikan hal itu. Tapi sejujurnya, aku mencintai tulisan karena bagiku dia seperti liang. Tempat bersembunyi dan berekspresi paling nyaman. Kita bisa jujur, menjadi diri sendiri, merasa puas dan terlampiaskan.

Sering saat aku rindu, dengan cepat tanganku akan menari, menjabarkan semua yang ada dalam kepala. Tumpah ruah, meluapkannya dalam rangkaian kata-kata. Tapi sayang, semua selalu tidak pernah tuntas. Terputus di tengah-tengah seolah kehilangan arah, linglung ketika harus melanjutkan langkah. Dan akhirnya aku memutuskan berhenti. Diam-diam membungkus rindu itu yang entah kapan datang lagi. Berkhianat pada nurani sendiri, menjadi seorang pengecut.

Pada akhirnya aku takut. Takut jika semua nanti cuma akan menjadi mimpi yang tak pernah terealisasi. Diam-diam bersembunyi, terkalahkan rutinitas yang tak pernah henti. Karena itu aku akan menghidupkannya kembali. Di sini, saat ini.

Jadi, mulai sekarang kutiupkan kata-kata dengan lantang: Selamat datang Liang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s