Pindang Kendil

pindang kendil, foto dipinjam dari kampung-nelayan.blogspot.com
pindang kendil, foto dipinjam dari kampung-nelayan.blogspot.com

Habis makan siang, ga ada angin ga ada ujan tetiba ingatan saya melayang ke makanan favorit waktu di kampung: pindang kendil.  Wauww. Sejak merantau ke Surabaya trus lanjut di Jakarta ini, saya belom pernah sekalipun ketemu sama makanan pindang kendil. Serius! Kalo ikan pindang sih di mana-mana banyak yang jual. Tapi khusus buat pindang kendil ini, kayaknya cuma ada di kota Blitar dan sekitarnya. Atau mungkin di kota-kota pesisir pantai. Saya kurang begitu tahu.

Trus, apa sih beda ikan pindang biasa sama pindang kendil? Sesuai dengan namanya, pindang kendil ini adalah ikan laut yang diberi banyak garam, terus dimasukkin ke dalam kendil atau gendok. Kalau menurut referensi yang saya dapet dari sini, pindang laut ini biasa dibikin nelayan saat melaut di atas perahu mereka. Ikan segar yang belum ada 1 jam ditangkap kemudian disusun dalam kendil (gerabah/kuali kecil dari tanah liat) di atas potongan jerami. Setelah tersusun rapi sampai penuh disiram air laut sampai penuh di bibir kendil. Tutup rapat bagian atas kendil yang terbuka dengan daun (pisang/jati) atau plastik. Masak di atas perapian sampai airnya menyusut.  Pindang laut punya rasa yang khas dengan tulang yang lunak.

Soal rasa gimana? Jangan tanya. Asin bangeettt. Ya iyalah, namanya juga disiram pake air laut yang kandungan garamnya aduhai. Bahkan dulu saya sering lihat isi yang ada di dalam kendil adalah sebagai berikut: garam yang melimpah ruah dibagian dasar kendil, kemudian jerami, baru di atasnya ada tumpukan pindang yang masih ditaburi dengan garam lagi. Makanya buat nguranin rasa asin, sebelum memasak pindang ini bungkus dulu dengan kertas bersih. Kalo buat saya rasa asinnya itu yang malah bikin ketagihan. Hehehe, bilang aja doyan ya. Secara saya adalah penggemar beratnya ikan asin.

Terus terus, pindang kendil ini bisa dimasak apa aja sik? Oow, banyak sekaliiih. Kalo dulu ibu saya cukup dengan menggorengnya. Trus bikin sambel terasi/sambel bawang/sambel bajak dan gak sampe lama pindang kendil goreng itu bakalan tandas tak bersisa. Bahkan saking sukanya, kadang saya suka comot gitu aja pindang yang masih di dalam kendilnya alias belom diolah (*maafkan, jangan ditiru ya. Anaknya emang nggragas. :p). Saya penasaran dong, menu apalagi yang kira-kira bisa digunakan untuk mengeksekusi ikan ini. Dan mendaratlah saya di blog pawonsgallery.wordpress.com. Di sana ada satu menu untuk si pindang ini selain digoreng, yaitu dikotok. Kalo mau tau gimana cara masaknya silahkan lari ke sini ya. Pokoknya ikannya dimasak pake santen, trus dikasih irisan bawang merah, bawang putih, cabe rawit daann belimbing sayur. Pedes, asin, seger. Mancaaap! Duh duh duh, ngebayanginnya aja bikin air liur saya netes *lap mulut.

Pokoknya ya, buat penggemar berat ikan pindang dan ikan asin kalian harus coba. Saya juga udah masukin menu ini ke daftar makanan yang harus diburu saat pulang kampung lebaran nanti. Gak sabar euy.

 

 

8 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s