PERNIKAHAN SEDERHANA

Picture: http://primbondonit.blogspot.co.id/
Picture: http://primbondonit.blogspot.co.id/

Saya dan suami dulu berencana kalau menikah tidak ingin bermewah-mewah. Kenapa? Alasannya tentu karena kita tidak punya uang dan tidak ingin merepotkan orang tua. Pernikahan di jaman sekarang ini mahal. Bukan untuk menjadi sah nya, tapi lebih ke seremoninya. Pesan gedung ini, catering itu, undangan ini, souvenir itu, pre wedding ini, video itu, musik ini, baju pengantin itu dan masih sederet pernak-pernik lainnya. Semua itu tentu bisa saja menguras isi dompet yang tidak sedikit, mulai dari puluhan, ratusan hingga milyaran.

Maunya kita menikah dengan biaya sendiri. Lha tapi waktu itu kami benar-benar tidak ada dana. Saya pun sebenarnya kurang suka dengan resepsi pernikahan yang harus bercantik-cantik ria (iya, saya memang kadang ‘berbeda’). Kalaupun ada dananya, jika boleh memilih saya lebih suka menggunakannya buat traveling bersama pasangan atau malah ditabung untuk kehidupan setelah pernikahan.

Tahu nggak, kecuali kita anak orang kaya yang apa-apa sudah disediakan, setelah menikah itu banyaaaak banget kebutuhan PENTING yang harus dipenuhi. Beli rumah atau kontrak rumah (pengeluaran terbesar) dan peralatan rumah tangga macam centong nasi, centong sayur, sendok, garpu, piring, gelas, tempat tidur, lemari dan lain sebagainya. Siapa sangka beli peralatan dapur dan teman-temannya itu bisa habis berjuta-juta.

Berdasarkan pemikiran itu, saya dan suami sepakat untuk hanya ijab Kabul saja di masjid depan rumah. Niat itu pun kita sampaikan ke orang tua saya dan orang tua suami. Eh, lha kok ndilalah ibu saya tidak setuju. Alasannya ini adalah terakhir kali ibu saya (ayah saya sudah meninggal) menyelenggarakan acara pernikahan. Saya memang bukan anak terakhir. Tapi saya anak peremuan kedua. Adik saya laki-laki, di mana ibu berpikir kalau laki-laki tidak wajib mengadakan ritual perayaan pernikahan atau ngunduh mantu. Tapi saya dan suami tidak punya uang. Lha terus bagaimana? Ibu saya bilang tidak apa-apa. Itu memang kewajibannya sebagai orang tua. Itu juga yang dilakukan oleh bapak mertua saya. Malu sebenarnya. Tapi kami berdua tidak bisa bilang apa-apa selain mengikuti kemauan beliau berdua. Dan akhirnya pernikahan kami seperti orang pada umumnya. Ada perayaan, lengkap dengan bersolek, limpahan makanan dan undangan, meski tetap sederhana.

Konsep sederhana di sini tentu tidak bisa digeneralisir. Tergantung orang dan kelas sosialnya. Untuk sebagian orang, menikah di rumah saja itu sudah sederhana. Padahal meski di rumah, cateringnya tetap kelas satu atau premium (yang tentu tidak murah). Paling tidak mereka sudah menghemat biaya gedung. Atau ada lagi yang menikah di gedung, tapi salon, make up, catering, dan sebagainya adalah standar. Rata-rata. Yang tentu biaya tidak terlalu mahal juga dibandingan kelas premiumnya. Dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi apapun itu, hendaknya pesta pernikahan tidak memberatkan bagi orang yang akan menikah. Karena ada beberapa orang single yang terpaksa mengurungkan niatnya barang setahun atau beberapa tahun setelah menyadari besarnya biaya pernikahan. Wah, lha kalau menikah saja harus menunggu terkumpulnya dana, trus nanti dananya habis buat biaya pesta, setelah menikah dan berumah tangga mau makan apa?

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s