Ayooo Sekolaaahh

Setelah 10 tahun lulus dari S1 dan bekerja, saya tiba-tiba kepengen kembali ke bangku kuliah. Kembali belajar, karena rasanya kok makin ke sini saya ngerasa makin bodoh. Selain itu, saya memang selalu berkeinginan buat sekolah lagi karena setelah bekerja di dunia komunikasi saya jatuh cinta. Padahal pas kuliah pun dulu saya udah ambil jurusan komunikasi. Cuma bedanya, dulu pas kuliah saya nggak ada cinta-cintanya sama jurusan ini. Motivasi milih jurusan ini pun gara-gara saya nggak mau lagi belajar matematika. Diih, nggak banget ya *jangan ditiru. Nggak pernah naruh perhatian penuh ke jurusan yang saya ambil ini. Besok prospeknya mau kerja di mana, mau jadi apa, sama sekali nggak ada bayangan. Saya cuma berusaha kuliah dengan bener, dan nilai nggak jeblok. Pokoknya lulus dengan nilai lumayan bagus.

Begitu lulus kuliah, kerjaan saya juga bukan di bidang yang mengharuskan saya untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah di dapat. Sampai akhirnya 7 tahun kemudian, tepatnya tahun 2011, saya diterima kerja sebagai marketing & communication di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Senang? Tentu. Padahal saya belum banyak pengalaman, meskipun lulus dari jurusan komunikasi dan udah kerja cukup lama. Di sinilah saya mulai jatuh cinta sama komunikasi. Mulai ada bibit pengen sekolah lagi. Mulai ada penyesalan kenapa dulu kuliah cuma perhatian sama nilai aja bukan sama ilmu. Aku menyesaaaal.

Ada rencana mau ambil kuliah S2, tapi belum terlalu fokus. Gara-gara masih sibuk sama pacaran yang udah masuk tahun ke sembilan dan belum nikah-nikah juga. Hahaha. Taun demi taun, niat ambil sekolah S2 ini cuma sebatas keinginan doang. Sampe akhirnya saya nikah tahun 2012, trus punya anak di tahun 2013 dan sekarang sudah tahun 2016 *hela nafas.

Bibit ambil sekolah S2 muncul lagi setelah beberapa teman di tempat kerja mendapat beasiswa ke luar negeri. Aku juga mauuu. Mulai rajin browsing, tanya sana sini, cari-cari informasi dan makin hari makin kepengen. Dari awal rencana saya memang mau ambil S2nya di luar negeri. Kenapa? Selain karena pengen dapat pengalaman internasional, saya juga pengen ‘balas dendam’. Habis beberapa kali kerja, masak saya selalu ‘dikalahkan’ sama pegawai yang lulusan dari luar negeri. Padahal secara kemampuan mah sama aja. Cuman karena mereka bahasa Inggrisnya lebih cas cis cus, sementara saya cas cis doang nggak pake cus. Syediiih. Bertahun-tahun belajar bahasa Inggris dari SMP sampe kuliah kok ya nggak lancar-lancar ya. Makanya sekalian nyemplung langsung di tempat yang orangnya menggunakan bahasa Inggris secara aktif.

Trus mau ambil jurusan apa? Tetep dong komunikasi. Kan saya udah bilang kalau saya sekarang jatuh cinta sama ilmu ini. Cuma emang agak pusing mau nyari universitas di mana : Australia, Amerika, Eropa apa UK. Setelah cari-cari info, akhirnya mantep buat ambil kuliah di Eropa aja. Nah, di negara mana? Puyeng lagi. Browsing sana-sini, nemu 2 negara: Jerman apa Belanda. Galau, sampe akhirnya memantapkan diri ke Belanda. Tahap selanjutnya milih universitas. Nyari universitas di Belanda yang nawarin program komunikasi. Ada beberapa. Sibuk milih-milih, mempelajari dan akhirnya ngerasa cocok di Wageningen University. Kebetulan kantor saya adalah perusahaan Belanda. Jadi saya kenal banyak teman-teman bule Belanda. Iseng tanya soal universitas ini ke salah satu senior dan dijawab kalau dia adalah alumninya. Walaah. Universitasnya bagus dan kotanya enak. Ternyata banyak kenalan saya yang orang Belanda adalah alumni universitas ini, termasuk yang saya anggap big brother. Fiuuh. Semoga universitas ini juga bisa jadi almamater saya nanti. AAMIIN.

Trus ngapain lagi kita? Masih banyaaakkk banget yang harus dilakukan kakaaak. Secara saya nggak punya nilai TOEFL/IELTS, maka marilah kita khusyuk belajar bahasa Inggris buat persiapan ujian TOEFL/IELTS. Harus bisa minim 6.5. Duh, bisa nggak ya? Bahasa Inggris yang sekarang kan hancur banget😦

Selain bahasa Inggris, saya juga harus nyiapin dokumen-dokumen. Apa saja? Banyak. Pertama mari kita mulai minta legalisir ijazah sekalian translate Bahasa Inggrisnya ke Universitas saya di Surabaya. Sempet telpon ke bagian pendidikan katanya mereka butuh waktu 1 bulan buat proses. Baiklah. Saya mau pake paling nggak tahun depan. Jadi nggak buru-buru. Trus belajar nulis cara motivation letter, minta surat rekomendasi dari dosen/atasan, nyari letter of acceptance (LoA) unconditional dari universitas yang dituju sama yang maha penting: nyari BEASISWAnya! Ya iyalah, mana kuat saya bayar sendiri. Doain saya ya. *iyaaa. Aamiin.🙂

10 Comments

  1. Saya memang kecanduan sekolah. Dulu sIbuk mau sekolah, setelah lulus pengen sekolah lagi. Kalau ada s4 saya ikut S4 hihi. Kalau sdh ibu2 apalagi sekolah ke luar negeri banyak hal yg harus dipikirkan, terutama masalah keluarga. Nah suami gimana? Anak gimana?pokoknya banyak. Asal komunikasi dg suami baik semua bisa lancar. Semangat ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s