Posted in Bukan Sastra

Ruang sendiri

 

window-2542335_1920
Pixabay

 

Setelah sejauh ini, ku butuh ruang sendiri

Untuk menyepi, introspeksi diri

Setelah sejauh ini, akankah ku bisa melangkah lagi

Tanpa ragu yang kadang datang dan pergi

 

Hanya ingin bicara pada awan

Hanya ingin menyapa embun pagi

Hanya ingin menangis bersama hujan

Hanya ingin tersenyum pada matahari

 

Ku bukan manusia sempurna

Meski coba selalu berusaha

Ku bukan manusia sempurna

Karena Tuhan adalah akhirnya

 

Penat, lelah bukan alasan

Harus terus tegar berjalan

Hanya tempo berhenti saat ini

Merenung dalam ruang sendiri

 

Jakarta, 7 August 2017 

Posted in Bukan Sastra

Sudah tumpah

air
Pixabay.com

Sudah tumpah semua,

semalam.

di atas padas kamar mandi,

mencoba sembunyi diantara kericik aliran air.

Sudah tumpah semua,

semalam.

di atas tilam kamar,

mengalir diam-diam membentuk gambar.

Yang kemarin, sudahlah.

Yang berlalu, biarkanlah.

Yang terjadi, terimalah.

Berpasrah dan berserah.

Sekarang waktunya.

Menata kembali langkah yang beda.

Mengumpulkan lagi asa yang ada.

Dan merapal berantai doa-doa.

 

4 Feb’16

 

 

 

 

 

Posted in Bukan Sastra

Cerita Air mata

Air mata ini sedih.

Yang tak bisa terungkapkan dengan kata sulit apalagi sederhana.

Air mata ini cerita.

Yang tak bisa diungkapkan pada siapa.

Air mata ini pelampiasan.

Karena entah bagaimana harus dikeluarkan.

Air mata ini luka.

Namun entah kepada siapa.

Saat air dijerang di atas tungku perapian.

Tangan sibuk mengaduk adonan perlahan.

Bau wangi pandan dan gula merah memenuhi ruangan.

Dan satu dua tiga air mata turun berjatuhan.

Malam ini biarlah dia menjadi kawan, meringankan beban.

Semoga besok cerita air mata, sudah tertutup episodenya.

Jeruk purut, 26 Mei 2015, 11:46 

Posted in Bukan Sastra

Di mana duniaku

Di manakah duniaku?

 

Yang jelas bukan di sini!

Di antara tumpukan file-file yang tak rapi,

atau di antara kardus-kardus,

tempatmu menyimpan sisa remah roti.

 

Di manakah duniaku?

Tempat di mana aku bisa menikmati sendiri,

bahagia hampir setiap hari.

 

Besok!

 

Yah, besok aku akan mencari,

Mungkin terselip di antara hari-hari yang terlalui

Atau bahkan tersembunyi di antara bayang-bayangku sendiri.

Posted in Bukan Sastra

Rasa

Minggu lalu saya sudah beli peti penyimpan curiga. Seorang mas-mas salesman berbaju biru menawarkannya. Katanya ampuh mengatasi rasa curiga. Nah, itu masalah utama saya. Dijamin 100% semua curiga sirna, katanya. Pada atasan, teman apalagi pasangan. Baiklah. Sepakat dengan harganya sayapun tergoda. Lumayan mahal tapi cukup berguna. Berselang minggu, bulan dan tahun curiga saya sirna. Bahagianya.   Continue reading “Rasa”

Posted in Bukan Sastra

Aku pada Tulisan

Sungguhnya aku jatuh cinta pada tulisan. Tapi seperti pecinta yang kadang melupakan kekasihnya, begitu pula aku dengannya. Saat gairah menggelora, aku akan merengkuhnya segenap jiwa. Tapi ketika sudah habis tak ada rasa, denga cepat aku menafikannya. Meski sebenarnya jauh di dalam aku tak pernah membuangnya. Masih menyimpannya dalam peti kemas, yang sewaktu-waktu bisa dibuka di kala rindu mendera. Continue reading “Aku pada Tulisan”